Cerita ini adalah karangan fiktif belaka yang di tulis untuk kita yang terkadang melawan bunda kita.

Bunda adalah segalanya bagiku, yang menjagaku penuh pengharapan dalam sembilan bulan bunda mengandungku, pagi , siang dan malam selalu memberikan sesuatu yang berguna bagiku disaatku hanya terdiam sebagai seorang janin dalam tubuh bundaku,

Bunda rela menahan sakit agar aku bisa terlahir didunia ini, senyuman bunda berikan ketika mendengar rintihan seorang bayi yang dia lahirkan, seakan itulah kebahagiaan yang utama baginya.

bunda adalah mentari pagi bagiku, bunda adalah rembulan bagiku, dan bunda adalah selimut bagiku disaatku kedinginan, tidak ada yang lain dalam hidup bunda yang dia lakukan , hanyalah menjagaku untuk bisa tumbuh dengan sehat.

Setelahku dewasa bunda tetap menjagaku, kasih bunda tak pernah mati selalu abadi sepanjang masa.

Akupun dewasa kini menjalankan kehidupan seperti yang lainnya, aku bersekolah hingga kini aku kuliah, bunda selalu memberikan support yang luar biasa kepadaku, dan aku bangga dengan bundaku.

Tapi cinta kasih bunda yang sangat kubanggakan pernah kulupakan karena seorang gadis aku cintai, dan sangat luar biasa kurasa cinta itu, hingga apapun yang kulakukan selalu ingin membuat kekasihku tersenyum. Hal ini tidak pernah aku pikirkan untuk bundaku.

Ketika itu bunda menangis karena kerinduannya kepadaku, karena disaat aku memiliki kekasih aku jarang menanyakan kabar ataupun betah untuk tinggal dirumah. Sifatku berubah, seperti mendapatkan mutiara yang hilang.

Aku melawan, aku memarahi bundaku, dan sering membuat dia menangis dan aku terkadang pergi dari rumah membiarkan bundaku sendirian dirumah, dan itu tidak sedikitpun membuatku rindu dengan bundaku. Semua karena kurasa kekasihku adalah segalanya, aku melupakan kasih bundaku.

Disaatku pergi dari rumah bunda selalu berdoa untuk keselamatanku, kesehatanku dan kebahagiaanku.

Disaat bunda di masa tuanya sekarang ini, bunda tetap tegar menjalankan kewajiban bunda sebagai seorang istri dari ayahku dan seorang ibu yang baik bagi kami anaknya.

Suatu ketika bunda sakit, disaat itu tak ada satupun orang dirumah. Bunda terjatuh pingsan didapur rumah, dan aku lagi asyik bertamasya bersama kekasihku. Aku tertawa aku tersenyum aku seakan bahagia sekali.

Setelah aku seharian bersama kekasihku, akupun pulang kerumah yang lebih kusesali, saat itu aku hanya berpikir untuk balik karena untuk meminta bunda uang kepada bundaku, yang dimana aku ingin mengajak kekasih dinner malam ini.

Sesampainya dirumah aku melihat pintu rumahku yang tidak terkunci, dan aku bergegas masuk, rumah terlihat kosong hanya sepucuk surat dari ayahku yang isinya bahwa aku harus cepat ke rumah sakit karena bundaku sekarang dirawat dirumah sakit. Aku bergegas pergi, namun dia perjalananku ke rumah sakit aku dihubungi oleh kekasihku, bahwa dia ingin bertemu saat ini juga, aku menjelaskan bahwa aku harus kerumah sakit karena ibuku sedang dirawat. Tapi kekasihku tetap ingin aku kesana, akupun merubah arah perjalananku untuk kerumah kekasihku.

Sesampainya  disana aku melihat kekasihku dengan penuh senyuman mengajakku pergi kesuatu tempat. dan ternyata dia mengajakku kesebuah salon ternama karena ingin memanjakan dirinya disana, astaga aku pun hanya menuruti kemauan kekasihku itu. Dan menunggu dia hingga selesai dengan aktifitasnya itu, setelah itu akupun mengantarnya pulang dan bergegas kerumah sakit.

Sesampai dirumah sakit aku melihat bundaku sedang tertidur lemas dengan botol infuse disampingnya. Ayahku pun memarahiku, karena keterlambatanku datang ke rumah sakit. Aku tidak tau setan apa yang merasuki otak dan pikiranku saat aku mendengar ocehan ayahku terhadap kekasihku, aku dibilang hanya mementingkan kekasihku saja. Aku melawan dan merasa tidak terima dengan perkataan ayahku, kamipun bertengkar mulut.

Tiba-tiba bundaku terbangun dan melihat diriku, bunda tersenyum dan memanggilku untuk dekat dengan dia, tetapi ayahku tetap dengan perkataannya yang selalu mnyudutkaku dan kekasihku, disaat itu aku tidak menanggapi panggilan bundaku untuk datang berada didekat dia akupu pergi karena emosiku terhadap ayahku. Terdengar panggilan dari bundaku “ anakku jangan pergi anakku, bunda rindu” tetapi aku tetap pergi meninggalkan kamar dimana bundaku dirawat itu.

Aku pun beranjak pergi dengan sepeda motorku, melaju cepat dijalanan dan aku hilang kendali disaat aku menghindari seorang nenek yang memotong laju motorku, aku pun terjatuh saat menabrak tiang listrik di pinggir jalan, aku kritis dan tanpa sadarkan diri lagi aku dibawah ke rumah sakit. Dan rumah sakit itu adalah tempat bunda dirawat.

Kejadian ini berlalu sehari tanpa ada yang ketahui aku sedang koma dirumah sakit, setelah dokter meliat hand phone untuk mencari tau dan mengabari keluargaku tentang keadaanku , yang dokter temukan pertama kali di panggilan masukku adalah kekasihku, dan dokterpun  coba menghubungi kekasihku, tapi tidak diangkat.

Tiba tiba datanglah seorang ibu-ibu masuk keruangan tempat aku di rawat, dan berkata dia anakku, ibu itu adalah bundaku, dengan air mata bundaku duduk disampingku melihat keadaanku yang sangat parah, kedua kakiku patah, kepalaku dililit perban karena benturan keras dikepalaku.

Dokter bertanya kepada bunda, “ siapa yang mengabari ibu ? kalau anak ibu kecelakaan, karena setau kami, disaat di TKP tidak ada satupun yang mengenalinya. “ ibuku hanya menjawab “karena dia anakku”

Seminggu aku tidak sadarkan diri, disaat itu ayahku pun datang menemaniku. Bunda selalu ada disampingku. Sore  hari akupun siuman , dan perlahan mata ini terbuka dan melihat ibu yang tersenyum, dan menyapaku, akupun menangis memeluk ibuku,

Aku bertanya apakah kekasihku datang selama aku tidak sadarkan diri. Ayahku menjawab dengan spontan, tadi ada seorang gadis datang kemari dan menanyakan keadaanmu kepada dokter, dan setelah mengetahui aku sudah tak bisa untuk berjalan karena lumpuh, gadis itu pun pergi, yang sebelumnya gadis itu berkata dengan lantangnya bahawa dia tidak mengenalimu dan “dia bukan Kekasihmu”  Aku pun terkejut   dan merasa kecewa dan juga putus asanya aku dengan keadaan aku sekarang.

Setelah di rawat hampir dua minggu di Rumah Sakit, aku pun di perbolehkan pulang, aku sudah tak dapat berjalan lagi, hanya kursi roda yang aku punya sekarang, sebagai alat aku bergerak. bunda selalu menjagaku, menyayangiku, dan selalu memberikan yang terbaik buatku,

Aku  bertanya pada bunda “ Bunda tau sebelum kejadian ini aku sudah membuat sakit hati bunda, aku melawan bunda dan aku tidak lagi dekat sama bunda, kenapa bunda tetap sayang padaku?” bunda menjawab “ karena kau anakku “ bunda pun tersenyum. Akupun menangis. Dan berkata pada bunda bunda maafkan aku , cinta kasih terbesar di dunia ini adalah cintamu bunda” dan maafkanlah aku anakmu ini karena maaf daribunda adalah surga bagiku.

Bundapun memelukku dan berkata :anakku seperti apa keadaanmu sekarang kau tetap anakku………….

Sepenggal cerita diatas, kita bisa melihat berapa besar cinta seorang bunda kepada anaknya, dan seberapa besar cinta seorang kekasih kepadanya…….

BUNDA     :   “KARENA KAU ANAKKU”

KEKASIH  :   “DIA BUKAN KEKASIHKU”

Create  by Kaka Iyan